Tentang Memilih Pemimpin…

Kemarin, saya membaca post dari ustadz favorit saya, yang saya rasa perlu kita amalkan ketika dihadapkan pada situasi tertentu. Misalnya pada situasi saat ini yang sedang rame menjelang pilkada di salah satu propinsi di pulau Jawa ini.

Selanjutnya, saya akhirnya menyadari bahwa pengetahuan dan pemahaman orang terhadap agamanya, Rabbnya, Kitabnya, Nabinya, saudara seagama, dan terhadap umat agama lain, akan sangat mempengaruhi sikap, pandangan, dan pendiriannya pada suatu hal.

Misalnya, orang yang pernah membaca AlQuran dan terjemahannya dengan lengkap, pasti akan mengetahui bahwa perintah menutup aurat itu datang dari Allah langsung yg tertulis nyata dalam firmanNya; yang memerintahkan bukan ustadz, guru, sodara,dll tapi Allah langsung. Lha kok banyak yang ga tau? Lha karena mereka mungkin blm membaca surat cinta dari Allah yang mengatur segala urusan makhlukNya di dunia ini, surat cinta berwujud Kitab Allah yg dengan jelas mengatur segala perintahNya, laranganNya, petunjukNya, pedoman hidup dariNya.

Guru, ustadz, sodara seiman dll hanyalah perantara tersampaikannya isi surat cinta itu; yang seyogyanya dipelajari sendiri oleh semua muslim.

Jadi, misalkan ada kasus seperti ini.

“Saya muslimah, saya belum siap jilbaban, yg penting jilbabi hatinya dulu, daripada jilbaban tapi pacaran, suka berzina, dll. Saya kan ga pernah pacaran, dll, malah yg berjilbab kelakuannya lebih biadab daripada saya”

Maka jawaban saya untuk kalangan ini:
Perintah berjilbab datangnya dari Allah langsung. Anda bisa lahir, hidup, dapat rejeki, dianugerahi wajah cantik, rejeki berlimpah, kesehatan dsb itu semua dari Allah. Tapi ga mau mengikuti aturan Allah yang jelas2 untuk melindungi diri anda.

Namun ketika atasan, pemimpin anda menyuruh berpakaian seragam ini itu, panjangnya segini segitu langsung anda ikuti. Padahal berapa rupiah sih gaji yg anda dapatkan darinya jika dibanding semua karunia Allah.

Saya menyadari bahwa semua itu perlu belajar, perlu waktu utk belajar. Tapi juga semua itu patut DIUPAYAKAN. Bayi ga akan bisa berjalan jika ia enggan belajar berdiri dan terjatuh. Sama halnya dengan kita. Kita pun harus selalu belajar supaya dapat bersikap dan berperilaku tetap sesuai petunjukNya.

Saya sendiri pun dulu pernah berada pada titik di mana saya belum tau dengan jelas aturan2 itu (perintah berjilbab) atau belum merasa penting atau wajib untuk melakukannya.

Apalagi memang perlu modal khusus untuk membeli perlengkapan berjilbab; merupakan hal yg tdk mudah bagi orang yg memiliki keterbatasan finansial. Sampai-sampai saya pernah berkata: “Saya ingin berjilbab tapi saya belum mampu. Jika saat ini ada yg membelikan saya baju 2 lemari penuh utk kelengkapan berjilbab maka saya akan berjilbab saat ini juga”

Tapi hal kayak gitu kan ya hampir dikatakan impossible kan ya? Alhamdulillah seiring kemampuan finansial yg membaik, Allah menggerakkan hati saya untuk menyukai jilbab. Ke pasarlah saya utk membeli barang 1 atau 2 buah. Di kamar dicoba2 dipatut2 dan senyum2 sendiri suka. Esoknya beli lagi dan beli lagi yang murah2 aja. Akhirnya, dengan sendirinya memulai hari berikutnya denhan mengenakan jilbab ketika keluar rumah.

Tadinya yg merasa enjoy aja pake celana pendek dan rambut tergerai, akhirnya malu, apalagi kalau sampai tengkuk terlihat orang bukan muhrim, malu sendiri.

Ya, semuanya melalui proses, semuanya berjalan lancar seiring kita yg selalu berusaha mendekatkan diri pada Allah. InsyaAllah ada-ada aja jalan dari Allah.

Alhamdulillah, terkait berjilbab, saya ga termasuk orang yg mengikuti perintah Allah hanya sebatas karena takut pada akibatnya. Karena, hal yg dijalani dg diawali hanya karena takut maka saya yakin akan kurang bagus efeknya; apalagi jika tidak dibarengi dg memperkuat iman dan belajar. Saya memulai berjilbab karena kecintaan saya akan jilbab, kesukaan saya mengenakannya, dan perasaan malu ketika org non muhrim melihat aurat. Dan alhamdulillah itu terbukti jauh lebih indah dan menyenangkan.

Apalagi saya pernah mengetahui kasua dimana ada seorang muslimah yg mulai berjilbab karena takut akan ancaman atau akibat bila tdk berjilbab yg diketahui sehabis membaca suatu buku. Ya, saat itu juga ia berjilbab. Namun saat ia mulai lupa akan ketakutannya, lupa akan ancaman dan dibarengi tdk menambah belajar, maka perlahan2 ia mulai santai melepas jilbabnya.

Saya perlu belajar, anda perlu belajar, kita perlu belajar..

Kembali lagi terkait polemik calon pemimpin. Bagi yang sudah atau belum komentar dan berpendirian ini itu, baca dan belajarlah dulu sebelum berkomentar dan menentukan sikap supaya tdk termasuk golongan orang yg gegabah dan merugi. Bacalah dengan jelas AlQuranmu surat Almaidah ayat 51 beserta ARTINYA, TERJEMAHNYA, DAN TAFSIR BERBAGAI SUMBER. Kemudian, pelajari juga ayat-ayat lain yg mengatur tentang pedoman dlm memilih pemimpin. Batu kemudia analisis dan simpulkan sebelum menentukan sikap.

Demikianlah cara kerjanya. Jangan asal berkomentar dulu.

Tadinya saya juga kurang memperhatikan isu ini krn saya tdk tinggal di daerah tersebut. Tapi, ketika sudah membawa nama AlQuran, maka ini menyangkut umat muslim dimanapun anda berada. Tidak bisa kok njuk apatis krn alasan sibuk dan bilang bukan urusan saya.

Meskipun kita tdk tampak nyata berbuat apapun, tapi belajarlah, at least ttg atutan memilih pemimpin di atas itu.

Non muslim di luar negeri sana aja, ketika penasaran dg isi AlQuran, apa betul di sana ada ajaran teroris dll, mereka justri membeli dan membacanya serta mengkajinya sehingga tau betul keindahan AlQuran dan akhirnya masuk Islam. Tapi muslim sendiri, banyak yg tdk mempelajarinya sehingga dg mudah terprovokasi. Memilih agama memang kebebasan, tapi coba tanya orang yg keluar dari agama Islam, apa ita dia sudah mempelajari agama Islam dg baik?

Tolong diperhatikan bahwa kemampuan membaca atau bahkan menghafalkan 30 juz AlQuran bukanlah jaminan bahwa seseorang sudah belajar Islam dg baik. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah ia betul2 mengetahui kandungannya dan maknanya serta mengamalkannya? Begitu juga dg hadist nabi.

Ataukah ia keluar Islam karena merasa menemukan kedamaian karena bebas dari kewajiban2 ibadah?

Lha terus siapa saya kok ngomong seperti itu? Orang pintar? BUKAN. Orang Sholehah? BBELUM. Ustadzah? APALAGI.

Intinya saya hanya ingin menyampaikan yuk kita belajar belajar dan belajar.

Kembali lagi pada urusan memilih pemimpin

Mintalah dengan suara lirih seraya merendahkan diri di hadapan-Nya. Berharaplah kepada Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh, menadahkan tangan meminta:

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan kepemimpinan wilayah kami kepada orang yang tidak mengasihi kami.” (HR. Tirmidzi).

SUMBER hadist2 tsb saya kutip dari : UST. MOHAMMAD FAUZIL ADHIM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s