Pengalaman Beasiswa AAS 2017, Keberangkatan 2018

beasiswa-penuh-s2-dan-s3-di-australia

Tanggal 16 Juni 2017

Tanggal ini menjadi tanggal bersejarah buatku. Masih teringat jelas ketika itu aku tengah berada dalam rapat seminar internasional di Fakultas. Ketika mengecek email, ada email masuk dengan nama asing dari Pak Daniel, eh kok dg logo khas AAS. Dengan perasaan nggak karuan langsung kubaca seperti apa hasilnya. Ini terkait dengan pengumuman peserta shortlisting yang bisa maju ke tahapan seleksi berikutnya.

Tadinya perkiraanku, pengumuman akan disampaikan akhir Juni atau awal Juli. Ternyata pengumuman ini lebih awal. Entah apa karena aku submit aplikasinya lebih awal atau bagaimana. Memang kuusahakan submitnya tidak mepet deadline karena seperti yang pernah kubaca dan dengar bahwa sebaiknya submit aplikasi beasiswa tidak mepet deadline atau pada hari deadline.

Pertama, menghindari crowded jaringan yang mengakibatkan aplikasi kita susah disubmit atau malah gagal submit sehingga gagal beasiswanya. Ngenes banget kan kalo gugur sebelum diseleksi kayak gitu. Kedua, kalau kita submit awal, maka aplikasi kita juga dinilai lebih awal, yang mana para penilai masih dalam keadaan insyaAllah seger buger, belum mumet membaca aplikasi yang bejibun. Coba bandingkan jika ada aplikasi 1000, tentu kondisi penilai berbeda ketika menilai aplikasi urutan ke 50 dengan menilai aplikasi urutan 959. Oleh karena itu, usahakan mensubmit aplikasi seawal mungkin, namun pastikan aplikasi tersebut benar-benar layak dan merupakan usaha terbaik yang kamu lakukan. Jangan sampai milih cepat tapi asal.

Pada tahun 2017 ini, proses seleksi beasiwa berlangsung sangat kompetitif. Jika biasanya pendaftar beasiswa AAS sekitar 3000 atau 4000an aplikasi setiap tahunnya, pada tahun ini jumlah aplikan mencapai 5300an – jumlah aplikan terbesar yang pernah diterima AAS (Menurut Pak Fadhil Baadila, salah satu pemateri dari AAS ketika opening ceremony PDT).

Dari 5300 an itu, diambillah 600 peserta shortlisting. Dari 600 ini nantinya akan diambil 300 sebagai penerima beasiswa AAS 2017.

Alhamdulillah aku lolos shortlisting daftar 600 orang yang merupakan tahap pertama seleksi.

Peserta yang lulus shortlisting akan mengikuti seleksi berikutnya yaitu tes IELTS dan interview di Jakarta. Ketika itu, aku mendapat jadwal tes IELTS tanggal 14 dan 15 Juli, sedangkan tes interview tanggal 27 Juli. Untuk seleksi ini, AAS menanggung biaya tiket penerbangan PP 1 kali kelas ekonomi, bantuan biaya akomodasi max 750.000 rupiah, dan free tes IELTS. Tiket yang diganti adalah yang dilakukan paling cepat 1 minggu sebelum jadwal tes.

Nah, kita perlu mencapai skor IELTS minimal 5,5 untuk program Master dan minimal 6 untuk program PhD dan lulus JST interview untuk dapat lulus seleksi beasiswa. Bagi calon yang lulus interview dan IELTS, kursus tambahan Bahasa Inggris akan diadakan di Indonesia sebelum berangkat ke Australia.

Tanggal 14 dan 15 Juli 2017

Tes Ielts saya terjadwal pada tanggal tersebut. Tes speaking dilaksanakan pada tanggal 14 Juli, sedangkan tes listening, reading, dan writing pada tanggal 15 Juli. Tanggal dan lokasi tes tidak dapat diubah maupun ditunda. Selain itu, ketidakhadiran kita pada tes mengindikasikan bahwa lamaran kita dianggap gugur. Jadi, jaga kondisi dan kesehatan ya guys supaya bisa ikut tes ini. Kurangi perjalanan-perjalanan beresiko untuk sementara waktu dan fokuslah belajar mempersiapkan diri.

Tanggal 27 Juli 2017

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan. Aku berusaha menyiapkan untuk tes ini sebaik mungkin. Karena  melamar untuk program PhD, proses tes interview berbeda dengan yang melamar jenjang master. Untuk pelamar PhD, proses interview dilaksanakan oleh tim Panel dengan 1 orang moderator. Waktu itu yang menginterview ada 4 orang, 2 orang dari Indonesia (seingat saya 1 Professor, 1 tidak) dan 2 orang Professor dari Australia. Interview dilakukan dalam Bahasa Inggris.

Saat tes interview, peserta diharuskan mempersiapkan diri untuk mempresentasikan proposal penelitian selama 10 menit secara verbal (tanpa powerpoint presentasi). Setelah presentasi, panel interview melanjutkan sesi tanya jawab terkait proposal dan kompetensi pribadi kita sekitar 30 menitan. Saya lupa tidak mengingat durasinya.

Nah, untuk tes interview ini sebenarnya dari pihak AAI (Australia Award Indonesia) sudah memberian gambaran pertanyaan apa yang ditanyakan. Jadi kita bisa belajar sebaik mungkin dari klue yang diberikan. Pada email pengumuman yang dikirim, disampaikan bahwa interview akademik bertujuan melihat ranking kita berdasarkan kriteria berikut:

  1. Kompetensi Akademik, contohnya: Bagaimana kita memilih program dan universitas yang tepat untuk memenuhi kebutuhan kita?
  2. Atribut kepemimpinan professional dan personal, contoh: Aapakah tujuan kita untuk masa depan dan rencana kita untuk 10 tahun ke depan?
  3. Hasil potensial, contoh: Bagaimanakah kualifikasi dan pengalaman kita selama di Australia bisa memberikan manfaat bagi instansi atau sektor kita?

Selain itu, kita juga harus telah siap untuk mendiskusikan pilihan studi dan universitas.

Nah, tips untuk tes interview ini bagi pelamar PhD yaitu:

  1. Usahakan telah memiliki calon supervisor. Meskipun beasiswa ini tidak mensyaratkan kita sudah diterima di universitas tujuan, namun untuk menunjukkan benar-benar serius ingin studi, pastinya perlu ada usaha mendapatkan calon supervisor. Syukur jika kamu telah mendapat calon supervisor yang setuju menerimamu. Kalau belum dapat, kamu harus mengevaluasi caramu menghubungi calon supervisor karena mungkin ada hal-hal yang kurang tepat sehingga emailmu tidak dijawab. Setidaknya, tunjukkan bukti-bukti bahwa kamu telah berusaha mencari supervisor dengan cara sebaik mungkin.
  2. Jika telah memiliki calon supervisor, usahakan sudah mendiskusikan proposal penelitianmu untuk mendapat feedback karena hal ini juga akan menjadi pertanyaan saat interview mengenai persetujuan supervisor pada proposal penelitian anda. Pada kasusku, supervisor meminta saya untuk menambah atau mempertimbangkan menambah variabel tertentu. Ketika itu aku langsung bertanya apa perlu mengubah proposal saat itu juga dan beliau bilang tidak perlu. Besok saja jika sudah sampai sana. Nah, aku lampirkan bukti percakapan email tersebut saat mendaftar dan benar, para interviewer bertanya terkait bagaimana jadinya proposalnya.
  3. Siapkan proposal penelitian sebaik mungkin dan sesuai dengan fokus area studi yang ditetapkan AAS. Cari sumber-sumber kuat dari berbagai buku dan jurnal internasional.
  4. Siapkan presentasi sebaik mungkin. Usahakan bagaimana supaya dalam waktu 10 menit kamu dapat memukau tim panel dengan proposalmu. Tunjukkan betapa pentingnya penelitianmu untuk dilakukan. Kamu dapat membuat powerpoint untuk membantu dalam menghafal. Print, lalu baca berulang-ulang.
  5. Latihan latihan latihan. Ingat! Waktumu presentasi cuma 10 menit guys. Pastikan sudah latihan dengan timer. Jika waktunya lebih, nanti distop saat presentasi dan bisa jadi kamu belum memaparkan bagian terpenting dari presentasimu. Dengan latihan pake timer, kamu bisa memilih dan memilah bagian mana yang bisa di skip dan mana yang ditampilkan dan bagaimana cara ngomongnya. Catet ya, meskipun saat interview kamu boleh membawa kertas alias jiplakan presentasi, tapi tetep akan terlihat konyol jika kamu hanya membaca kertas-kertas itu – yang menunjukkan betapa tidak siapnya dirimu dengan tes interview- siap-siap aja dicoret YA karena yakin deh para peserta lain pasti akan melakukan hal yang lebih bagus dari sekedar MEMBACA.
  6. Saat presentasi, tunjukkan bahwa kamu sangat menguasai apa yang kamu presentasikan. Sebenarnya para penguji sudah baca kok proposal risetmu. Kadangkala ada yang proposalnya buagus, tapi saat presentasi sebaliknya. Ada pula yang proposalnya tampak biasa, tapi setelah dipresentasikan ternyata luar biasa (demikian menurut salah satu penguji saat briefing sevelum tes). Usahakan proposalmu terlihat luar biasa saat dibaca, pun saat dipresentasikan. Lakukan kontak mata dengan penguji ketika presentasi. Bawlah kertas kecil berisi poin-point penting yang tidak ingin kamu lewatkan ketika presentasi.
  7. Saat menjadi peserta shortlisting, kamu akan menerima kiriman CD ke alamatmu spesial dari AAS berisi tips-tips saat tes interview dll. Pelajari baik-baik tips di CD tersebut. Terus terang, saat menyetel CD ini dengan gambar-gambar Australia yang indah beserta backsound CD dengan musik khasnya yang indah, langsung meningkatkan keinginanku untuk studi di sana 1000 % dan berusaha sebaik mungkin. Bener-bener indah deh.
  8. Kurangi mengobrol gak penting GUYS! Ingat kamu mau ujian, bukan mau tebar pesona. Bagus cari teman dimanapun, tapi inget kapan waktu yang sesuai. Yang kuperhatikan, sebagian peserta ujian ada yang terlalu banyak mengobrol saat menunggu dipanggil interview dan tidak betul-betul belajar mengenai apa yang akan dipresentasikan. Ya, kamu memang bakal terlihat ramah, pandai bersosialisasi, tapi sayangnya mungkin akan gagal ujian karena kurang siap. Silakan mengobrol sepuas mungkin – tapi mungkin setelah anda dari ruang ujian- Okey? Aku termasuk yang minim mengobrol jika mau ujian. Karena pernah ada pengalaman, minim ngobrol, fokus belajar, alhamdulilah lolos beasiswa DIKTI ke US tahun 2012 (padahal ga yakin lolos) meski ga jadi berangkat karena pada saat yang sama diterima CPNS dan status CPNS nggak boleh tugas belajar. Ketika sudah jadi PNS, ikut seleksi Dikti lagi, dan karena buanyak bgt ngobrol sebelum interview, hasilnya KAGAK DITERIMA. Terlepas itu sudah merupakan takdir Allah, saranku tetep kalau sedang ujian seleksi gitu ya sebaiknya fokus ya.
  9. Akhirnya, setelah berusaha semaksimal mungkin, berdoa dan berdoalah. Insyallah Allah akan memberikan hasil terbaik untukmu.

Tanggal 24 Agustus 2017

Sejak tanggal 15 Agustus 2017, diri ini kayak orang udunen (maaf pake istilah tsb meski belum pernah dan jangan sampai deh udunen alias bisulan). Gelisah banget sejak jam menunjukkan pukul 00.01, berharap sudah ada pengumuman beasiswa. Lebih dari seminggu diri ini dibuat gusar karena pengumuman yang tak kunjung keluar padahal penguji dulu menyampaikan hasilnya akan diumumkan pertengahan Agustus. Rasanya udah ga karu-karuan bener. Terus berdoa, tapi udah gak sabaaaaaar bgt pengen tau hasilnya. Akhirnya, kuikhlaskan, kusibukkan diri dengan kegiatan yang lain. Pada waktu itu akhirnya sudah tak terlalu menunggu lagi, dan tepatnya tgl 24 Agustus pkl 12.43 mendarat juga itu email pengumuman dari Pak Daniel.

Alhamdulilah Ya Allah…… Aku diterima Beasiswa AAS 2017 intake 2018. Subhanallaah, Walhamdulillaah, Wa Laa ilaaha Illallah, Allahu Akbar. MasyaaAllah… Tabaarakallah….

Tanggal 22 Oktober 2017

Akhirnya aku mendarat di Bali, untuk mengikuti Pre Departure Training sampai Maret 2018 nanti, insyaAllah…..

Oke, sekian dulu ya sharing kali ini. InsyaAllah ketemu lagi di sharing-sharing selanjutnya…. 🙂

Yogyakarta, 28 Oktober 2017

Bakda Subuh, di sela-sela ngerjain tugas dan belajar, dan tentunya mendampingi Nafi yang masih lelap dalm boboknya.

19 thoughts on “Pengalaman Beasiswa AAS 2017, Keberangkatan 2018

  1. salam kenal, sya milya dari lombok ingin bertnya.
    di OASIS, ada pertanyaan sperti ini
    Give up to three examples of how you intend to use the knowledge, skills and connections you will gain from you schoolarship. possible tasks can be personal and/or professional.q kurang mengerti mksud pertnyaan ini.
    tasks dsni mksudnya apa ya kak? Three examples itu atau gmna ya kak?

    Like

    1. Salam kenal juga mbak Milya. Pertanyaan tsb dapat dimaknai seperti ini: Bagaimana mbak akan menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan koneksi yg didapat dari beasiswa dalam kapasitas sebagai pribadi atau personal, dan atau dalam kapasitas pekerjaan atau profesional usai studi nanti. Bagaimana mbak memanfaatkan beasiswa ini untuk diri pribadi maupun kaitannya dengan pekerjaan.

      Hope this helps.

      Like

  2. Halo mbak,

    Mbak saya mau nanya nih, mbak dulu waktu daftarnya online di OASIS? Dan apakah mbak juga dulu melengkapi berkas lagi untuk additional information for online application?
    Saya bingung nih mbak, OASIS ID itu yang mana yah? Saya sudah submit form application saya di OASIS, tapi harus melengkapi lagi untuk additional information for online application, di australiaawardsindonesia.org.
    Di e-mail saya tidak dijelaskan yang mana OASIS ID, cuma ada “Your Application (AAS1916xxx)”. Apakah itu OASIS ID saya mbak?
    Mohon infonya, thanks.

    Like

    1. Iya mbak daftar online dan wajib ngisi additional information. Kalo ga maka otomatis gugur seleksi administrasi. Saya lupa format oasis id tapi sepertinya seperti yg mbak sebutkan. Bisa diakses di profil oasis kita kayaknya mbak. Saya sudah lupa detailnya. Mbak sekarang masih bisa log in oasis, masukan saya simpan semua apa yg sudah diisi supaya ketika masuk tes wawancara jawabannya match dg jawaban di OASIS. Hope this helps! Good luck!

      Like

  3. Mbak kalau sudah submit untuk additional information for online application di australiaawardsindonesia.org, apa masih bisa untuk unsubmit lagi jika ada data yang kurang?
    mohon infonya, thanks

    Like

  4. Hai mba Fitri. Saya terinspirasi banget baca blognya, banyak info yg saya dapet jg. Kalau tdk keberatan, saya boleh minta kontaknya mba? Email atau no.WA.
    Saya juga lagi persiapan untuk beasiswa AAS untuk pendaftaran tahun depan mba.
    Terimakasih😊

    Like

  5. Hai mba Fitri. Saya terinspirasi banget baca blognya, banyak info yg saya dapet jg. Kalau tdk keberatan, saya boleh minta kontaknya mba? Email atau no.WA.
    Saya juga lagi persiapan untuk beasiswa AAS untuk pendaftaran tahun depan mba.
    Terimakasih😊

    Like

  6. Salam kenal,

    Mau memastikan, apakah saat presentasi proposal PhD dibolehkan membawa catatan untuk panduan supaya tidak ada yang terlupa? Soalnya ada yang bilang juga katanya tidak boleh bawa apapun ke ruangan interview.
    Terima kasih.

    Like

    1. Waalaikumsalam Wr Wb.
      Hi Pak,
      Untuk cari Supervisor, bisa dimulai dg menentukan jurusan yang dituju. Cari beberapa universitas yg memiliki jurusan tersebut. Lihat profil Supervisors dari universitas yg dipilih. Pelajari CV calon Supervisors untuk mencari yg paling tepat sesuai bidang keilmuan dan research interest kita. Pilih beberapa yg potensial lalu kirim email. Jika dibalas semua dan diterima maka selamat, tinggal memilih. Jika tdk ada yg dibalas maka bisa coba email Prof yg lain sambil mengevaluasi cara menulis email.
      Hope this helps.

      Like

  7. Assalamualaikum mba Fitria,
    saya mau bertanya kalau kita sudah punya score IELTS yang udah melebihi syarat awal AAS tapi belum mencapai syarat universitas yang dituju, apakah kita tetep akan ikut tes IELTS?
    Terimakasih,

    Like

    1. Waalaikumsalam,
      Tes IELTS wajib diikuti pada rangkaian akhir pre departure training. Jika ingin kuliah di suatu univ, maka selain memenuhi syarat dari AAS, juga harus memenuhi syarat univ tsb. Kalau dpt skor ielts di bawah syarat univ yg dituju maka ada opsi cari univ lain yg syarat ieltsnya lebih rendah atau tes ulang dg biaya sendiri. Mungkin bisa dicoba negosiasi juga dg pihak kampus. Nanti bisa minta kontaknya dari AAS setelah skor ielts keluar. Hope this helps!
      Cheers, Fitria

      Like

  8. Assalamualaikum kak..apakah orang jawa bisa dapat AAS kak,
    Dan tesnyab itu di daerah mana kak..
    Mohon dijawab ya kak..
    Wassalamualaikum wr wb kak

    Like

    1. Waalaikumsalam. Beasiswa AAS saat saya daftar, diprioritaskan bagi penduduk daerah timur dan luar Jawa. Saya orang Jawa, domisili Jogja, alhamdulillah dapat. Untuk tempat tes, AAS yang menentukan, waktu itu saya dpt di Jakarta.
      Fitria

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s