Kilas balik perjalanan studi PhD 2018-2020 part 1 (pengalaman ditolak 5 kali!)

Kali ini saya akan bercerita tentang serangkaian kegagalan yang saya alami selama menjalani studi, khususnya dalam usaha publish paper di jurnal internasional bereputasi.

Perjalanan panjang ini dimulai sejak tahun 2018.

Juli 2018

Saya memulai studi S3 pada Juli 2018. Setelah berminggu-minggu berdiskusi dengan supervisors (meeting rutin seminggu sekali), akhirnya kami sepakat tentang penelitian PhD yang akan saya lakukan. Saya akan melakukan 3 penelitian dengan metode berbeda-beda guna menginvestigast 1 pertanyaan penelitian utama.

Penelitian pertama adalah scoping review untuk mengetahui penelitian-penelitian tentang aktivitas jasmani dan perilaku sedentary pada anak dan remaja yang telah dilakukan di Indonesia. Penelitian dan manuscript paper berdasar penelitian ini alhamdulillah selesai dilakukan Maret 2019.

Maret 2019

First trial submit di jurnal internasional (Q2).

April 2019

30 April 2019 menjadi tanggal bersejarah bagi saya karena merupakan tanggal pelaksanaan Confirmation of Candidature (CoC). CoC biasanya diselenggarakan maksimum 12 bulan setelah study PhD dimulai. Saya melakukannya di bulan ke 9. CoC merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan PhD, yang merupakan sesi “ujian” untuk membuktikan layak tidaknya saya menjadi seorang kandidat PhD. Kalau lulus CoC, maka candidature diteruskan, dan sebaliknya. Alhamdulillah saya lulus CoC ini.

Juli 2019PENOLAKAN PERTAMA

Dapet email dari jurnal internasional, kita sebut jurnal 1. Isinya tentang keputusan editor atas manuskrip kami. Dari proses review oleh 3 orang, kami dapat komentar bagus dari 1 orang dengan sedikit masukan, komentar sedang dari reviewer kedua dengan sedikit masukan, dan komentar kritis dari reviewer ketiga dengan banyak pertanyaan masukan. Para reviewer tampak terbuka supaya kami bisa merevisi manuskrip. Namun, setelah penantian 4 bulan tersebut, editor memutuskan mereject paper kami tanpa memberi kesempatan revisi. Demikianlah, penolakan pertama.

Lumayan mengecewakan, tapi saya mendapat masukan berharga dari reviewer pada proses tersebut guna pertimbangan revisi artikel.

Langkah selanjutnya, tentu saja cari calon jurnal lagi untuk submit. Setelah diskusi, kami memutuskan submit di jurnal Q1, kita sebut jurnal 2. Saya revisilah paper untuk memenuhi semua aturan jurnal ini.

September 2019

Saya selesai merevisi artikel pada bulan ini dan langsung mensubmitnya di jurnal 2 (Q1) yang berbasis di USA. Naskah kami pun masuk sampai tahap peer review.

Maret 2020PENOLAKAN KEDUA

Lama nian menunggu hasil review dari jurnal 2. Setelah 6 bulan menunggu, kami menghadapi kenyataan bahwa naskah kami DITOLAK oleh jurnal 2. Ada 3 reviewer yang menilai paper kami, reviewer 1 menyatakan minor revision, reviewer 2 menyatakan major revision, reviewer 3 menyatakan reject. Alhamdulillah, dengan mengimani bahwa rencana Allah adalah yang terbaik, saya berlapang hati atas hasil tersebut. Memang sempat kecewa, tapi tidak sampai membuat saya bersedih hati berkepanjangan.

Mari kita mulai perjuangan dari awal saudara! mencari jurnal lagi, merevisi lagi paper supaya memenuhi semua syarat jurnal tersebut, memperhatikan saran-saran dari reviewer sebelumnya dan masukan supervisor. Bergelut dengan revisian lagi.

April 2020

Saya dan supervisors (spv) sebenarnya sudah sepakat hendak submit ke calon jurnal ketiga. Tapi setelah dapat masukan dari salah satu kolega, saya jadi ingin mengubah pilihan jurnal – meskipun saya sudah merevisi jurnal untuk memenuhi panduan jurnal tsb. Saya sampaikan ke spv argumen saya dan alhamdulillah mereka menerima. Jadilah kita ganti jurnal lain yang kita sebut saja jurnal 3. Kerja besar pun dimulai kembali. Benar-benar kerja besar. Karena dua tahun telah berlalu sejak saya memulai review di tahun 2018, saya pun harus mengupdate review saya kembali dan menambahkan untuk mereview artikel-artikel yang terbit dalam kurun waktu 2018-2020. Kerja seperti dimulai dari awal, ditambah merevisi manuskrip mengikuti syarat jurnal 3.

Mei 2020

Dengan semangat kerja rodi, wkwkwk, Alhamdulillah akhir Mei 2020, semuanya jadi dan manuskrip terkirim ke jurnal 3 (Q2) pada akhir mei.

Juni 2020PENOLAKAN KETIGA

Singkat sekali kami sudah dapat hasil submit artikel. Hanya dalam hitungan hari, di awal Juni 2020 kami sudah dapat email balasan. Ya, balasan PENOLAKAN ketiga, tanpa melalui peer review terlebih dahulu. Kecewa? Sebentar. Nggak ada waktu buat ngerasain kecewa, harus fokus hunting jurnal lagi.

Masih di bulan yang sama, setelah melalui proses revisi sebagaimana cerita pada proses submission sebelumnya (you can imagine!), saya submit ke jurnal 4 (Q2).

AGUSTUS 2020PENOLAKAN KEEMPAT DAN KELIMA!

Setelah 2 bulan menunggu, mendaratlah decision letter ke email saya. Ada dua reviewer yang memberikan feedback lumayan bagus serta kritis mengajukan pertanyaan. Namun editor memutuskan menolak manuskrip kami.

Di bulan yang sama, saya submit lagi ke jurnal 5 (Q2). Dan dalam hitungan hari saya dapat decision letter bahwa naskah kami ditolak.

Well, begitu indah bukan? Dua kali ditolak dalam 1 bulan. wkwkwk….

Alhamdulillah saya punya Allah sebagai tempat bersandar, dan saya selalu yakin bahwa rencananya yang terindah. Termasuk penolakan bertubi-tubi yang saya terima. Kalau saya tidak mengimaniNya, mungkin saya sudah stress parah 😀

Alhamdulillah juga saya punya spv yang sangat supportive, selalu membantu, memfasilitasi dan menenangkan. Bahkan spv 2 saya berseloroh, “saya juga ditolak 7 jurnal sebelum artikel pertama saya berhasil terbit”. Alhamdulillah, hal itupun menenangkan saya. Yang sudah expert juga pada kenyang dengan pengalaman ditolak. apatah lagi saya yang baru tertatih-tatih belajar? My supervisor said “your paper will find its home”. Karena mungkin memang hanya ada 1 rumah yang paling tepat untuk sebuah paper. Tugas kita adalah mencarinya, dimanakan rumah yang paling tepat untuk paper kita? Di jurnal yang mana di antara ribuan jurnal yang ada di luaran sana?

Ditolak? Gagal? No problemo. Kita bangkit lagi, cari jurnal lagi, tentunya doa-doa tak berhenti terlepas. Sholat malam dan munajat pun terus dilakukan supaya diberi jalan terbaik.

SEPTEMBER 2020

Memilih jurnal keenam (Q2), revisi, submit!

OKTOBER 2020

Alhamdulillah paper kami berhasil melewati saringan administrasi dan masuk proses review. Jadi gak kena desk-reject alias ditolak tanpa melalui peer review. Alhamdulillah proses review berlangsung cepat. Kami sudah menerima komen reviewer pada awal Oktober 2020 dan diberi kesempatan untuk merevisi artikel. FYI, artikel kami direview oleh 5 orang. Dengan hati-hati dan seksama, saya pun berusaha merevisi paper dengan dibantu supervisor dan co-author yang lain.

19 Oktober 2020 menjadi tanggal bersejarah untuk saya. Karena pada tanggal ini naskah paper saya secara official DITERIMA untuk publikasi di jurnal keenam. Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, Allahu Akbar.

Langsung sujud syukur. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, perjuangan penelitian sejak 2018, usaha publikasi sejak 2019, akhirnya berhasil juga pada akhir tahun 2020.

Teringat akan sebuah pepatah – Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. InsyaALLAH

Drama 5 kali penolakan akhirnya memiliki happy ending sodara-sodara…..

Gambar 1. Paper penuh cerita yang akhirnya terbit (bisa diakses di https://www.mdpi.com/1660-4601/17/20/7665)

Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Allah. Berdoalah terus padanya. Yakinlah di setiap kegagalan ada makna yang bisa diambil darinya.

Seperti kegagalan2 yang saya ceritakan, saya bisa ambil banyak pelajaran, di antaranya:

  1. Menambah kesabaran
  2. Meningkatkan keimanan pada Allah
  3. Membuat saya instropeksi kekurangan pada paper saya pada tiap kegagalan sehingga bisa merevisinya, atau mungkin memang salah pilih jurnal aja.
  4. Meningkatkan kemampuan (coping) menghadapi masalah
  5. Menjadi lebih solid dengan keluarga saling bantu membantu tatkala saya harus benar-benar fokus dengan kerjaan.
  6. dsb yang ga bisa diceritakan semuanya.

Demikianlah cerita tentang kegagalan kali ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari cerita ini.

Terima kasih……!

Fitria

Yogyakarta, 17/04/2021

P. S.

Pernah dengar ada orang bilang, jangan sampaikan kesuksesanmu di social media. Itu ga akan buat orang seneng. Hmm, apa bener orang-orang lebih senang kalau denger cerita kegagalan temennya?

Well, tentu saja it depends on the person yaaa….

Ada orang yang senang liat orang susah, dan susah liat orang senang.

Pada tipe orang seperti ini, mungkin ada banyak masalah yang ia hadapi, terutama masalah hati, yang bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya permasalahan ekonomi, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dsb.

Namun saya percaya ada banyak orang tulus yang akan turut bahagia dengan kebahagian orang lain, pun turut sedih dengan duka yang dialami orang lain.

Termasuk golongan yang manakah kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s